
12 Juli lalu sudah dimulai genderang perang ’kampanye” oleh parpol yang berhak mengikuti pemilu 2009 , yang waktunya nyaris seumur bayi dalam kandungan sang ibu yaitu 9 bulan. Dan inilah rentang waktu kampanye ”terpanjang dalam sejarah pemilu di Indonesia. Bukan main !! Alasan dari lamanya kampanye ini salah satunya adalah agar rakyat pemilih bisa dapat mengenal lebih baik lagi terhadap partai – partai politik yang jumlahnya memang bukan semakin menurun malahan bertambah. Parpol lama yang ekisisting berjumalh 16 partai , dan yang baru 18 partai meskipun ada banyak ”muka – muka lama” dalam kepemimpinan & kepengurusan partainya. Argumentnya banyak yang ”berdalih” ada yang tidak puaslah di partai lamanya atau bahkan ada yang berfikir memang harus ada partai baru karena yang eksisting dianggapnya belum mampu menjawab keadaan yang lebih baik untuk Indonesia. Apapun alasan mereka yang sekarang bercokol di Parpol , mereka harus bertanggung jawab.
Karena setiap partai politik ”wajib dan harus ” memberikan pendidikan politik pada rakyat calon pemilih, hal ini tegas sekali dijelaskan dalam pasal 76 UU 10/2008 tentang pemilu : ” Kampaye merupakan bagian dari pendidikan politik masyarakat”.
Jadi yang paling penting adalah bagaimana cara atau proses parpol dalam mengedukasi masyarakat lewat ”kampanye” yang mendidik dan tidak ”NORAK”!
Dalam pasal 80 ayat 1 , UU/2008 dagariskan bahwa ”kampanye partai politik harus memuat visi , misi , serta program kerja dari parpol itu sendiri , baik itu dengan pertemuan terbatas , tatap muka , sarana media cetak dan elektronik , dan dengan sarana kontak menggunakan bahan kampanye dan atau alat peraga , pasal 81.
Yang menarik sejak sebelum tanggal 12 Juli 2008 ketika seharusnya kampanye baru boleh dilakukan , tampak jelas di media elektronik, ada beberapa parpol yang sudah ber-IKLAN. Ada partai baru dan partai besar yang eksisting juga gak mau kalah tayang duluan. Yang akan saya soroti bukan masalah kemungkinan adanya dugaan pelanggaran masa tayang kampanye di media elektronik audio – visuai ini , karena hal ini bukan kompetensi dan wewenang saya , namun saya lebih menyoroti tentang ”konten iklannya” sesuai dengan kompetensi saya yang memang rajin memperhatikan iklan audio visual bukan hanya kebetulan ada tayangan iklan parpol saja , berbagai iklan-iklan lainnya juga tak luput saya amati.
Fakta yang sudah terlihat memasuki awal kampanye 12 Juli 2008 , pemirsa pasti pernah melihat tayangan iklan ”Parpol”...ada parpoll eksisting Golkar , juga muncul tak kalah sering tayangnya partai baru Gerindra !! Kalau kita perhatikan kedua partai ini rasanya paling sering muncul di media pandang dengar ( televisi ) beberapa waktu lalu.
Kalau anda ditanya apa komentar anda ketika melihat kedua iklan parpol tersebut ? Jawabnya pasti beragam mungkin ada yang sinis atau mungkin juga cuex saja , bahkan ada banyak pemirsa yang bertanya – tanya : benar gak sih apa yang dimuat di iklan tersebut nantinya akan sesuai seperti janji yang ditayangkan di iklan parpolnya ?Harapan seperti ini sangat wajar bahkan suatu keharusan yang layak dipertanyakan karena rakyat sudah banyak belajar dari pengalaman dimasa 10 tahun reformasi.
Oke, mari kita tunggu dan kita buktikan nanti apa benar pesan iklan yang memberikan ”suatu harapan itu akan terwujud’?
Waktu masih panjang....perlu pembuktian yang lebih kongrit lagi.
Kembali tentang masalah ber-IKLAN...adalah hal yang lumrah dan memang harus dilakukan jika produk atau jasa kita ingin mudah dikenal dan diterima konsumen. Begitupun akan halnya IKLAN PARTAI POLITK, jika ingin dikenal bolehlah ber iklan baik itu dimedia elektronik , cetak , media luar ruang dan lain-lain sebagai bagian dari strategi pendekatan ke publik apalagi saat ini lahirnya partai baru , tentu saja ber-iklan merupakan pilihan yang logis - matematis, misalnya hanya dengan sekali tayang dengan durasi kurang dari 1menit sebuah iklan parpol bisa dilihat oleh banyak orang diseluruh nusantara. Maka tak heran belakangan begitu trendnya kandidat para calon gubernur sampe ke balon walikota di profinsi lainpun mau menayangkan iklannya ditelevisi nasional karena memang mereka diusung oleh partai partai yang mendukungnya yang tersebar di berbagai wilayah provinsi. Contoh lain masih segar dalam benak kita ketika memperingati seabad kebangkitan nasional , ketum ( Ketua Umum) Pan Sutrisno B , namanya menjadi sontak populer dan di ingat oleh banyak orang ( Ada sebuah survey yang melakukan hal ini ), gara – gara iklan layanan masyarakatnya yang dikemas cerdas dengan menggunakan iklan yang konfrehensif tidak saja hanya di televisi tapi dipadu-padankan dimedia lainnya , ada di koran juga , spanduk-spanduk besar yang berjejer di tepi jalan protokoler dan medium lainnya, dan yang pasti dengan menggunakan momentum kebangkitan nasional , sebuah ”konsep” promosi yang jitu !!!
Selamat untuk pak Sutrisno, anda sudah punya modal dasar yang menasional dikenal publik lewat Iklan Layanan Masyarakatnya ( PSA – Public Service Announcement ). Apakah sudah siap maju mencalonkan diri untuk menjadi kandidat orang no 1? Kita tunggu saja seperti yang sering diucapkan pa Tris ini :”tunggu tanggal mainnya”
Mencermati Iklan – Iklan Parpol ini ada pembelajaran bagi kita semua , terutama bagi parpol itu sendiri , yaitu bagaimana cara yang efektif publishitas yang melegenda , bisa cepat dikenal atau bahkan justru pesan promosi iklannya lewat begitu saja!
Ada catatan penting bagi parpol – parpol yang ingin sukses mendulang suara lewat iklan promosi.
Pertama harus di ingat ketika kita membuat ’konsep sebuah iklan apapun tak terkecuali iklan parpol , anda jangan berbohong karena sekali saja iklan itu bohong tidak sesuai dengan apa yang di iklankannya publik atau konsumen berhak menggugatnya.....jadi jangan sekali – kali obral janji gombal dalam iklan parpol anda.
Bikin iklan yang realita saja apa yang memang sedang terjadi di negeri ini , ceritakanlah itu dengan natural jangan dibikin – bikin.
Kedua harus di akui masyarakat sudah banyak yang tidak percaya lagi pada Partai Politik ( Bukti nyata golput meningkat drastis – survey Indo barometer yang ditayangkan oleh sebuah stasiun tv swasta beberapa waktu lalu ).
Dua hal pokok tersebut harusnya menjadi perenungan bagi kita semua terutama partai – partai politik yang sedang bertarung menuju pemilu 2009.
Konsep sebuah iklan yang cerdas dan mendidik memerlukan ongkos yang tidak sedikit , namun bukan jaminan dengan produksi yang jorjoran akan menghasilkan iklan yang kena sasar target marketnya...Hal ini perlu di uji dan dikaji lagi....biarkan publik atau konsumen yang menilainya bukankah kita ingin merangkul mereka ?
( Kief Bhastian )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar